talempong yang bernada rendah disebut
Marimbaphone sejenis Xylophone yang dilengkapi dengan tabung-tabung resonansi pada tiap bilah suaranya.Marimba yang sering digunakan pada Konser biasanya memiliki ambitus suara antara 3 ½ - 5 oktaf. Concert Marimba ada yang ditala dalam jangkauan nada : c - c 4, dan f - f 4.Adapun Xylo - Marimba merupakan kombinasi antara Marimba yang berwilayah rendah dengan Xylophone yang berwilayah
Salahsatu bentuk gangguan pendengaran yang jarang kita ketahui adalah gangguan pendengaran frekuensi rendah. Atau yang sering disebut sebagai gangguan pendengaran "reverse-slope"(kemiringan terbalik). Nama ini digunakan karena tampilannya pada audiogram. Berupa bagan standar yang digunakan audiolog dan spesialis alat bantu dengar untuk mengukur tingkat pendengaran selama pengujian berbentuk
Tinggirendah nada ditentukan oleh frekuensi gelombang yang dihasilkan terkait dengan panjang kolom udara dan bentuk instrumen, sedangkan timbre dipengaruhi oleh bahan dasar, konstruksi instrumen dan cara menghasilkannya. 10 Contoh alat musik yang dibunyikan dengan cara ditiup : a. Seruling b. Terompet c. Harmonica d. Saksofon e. Fluta f. Bason
Angklung( Aksara Sunda Baku: ᮃᮀᮊᮣᮥᮀ) adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang berkembang dari masyarakat Sunda. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap
Gerakanback up adalah jenis latihan kekuatan dan stabilitas dengan intensitas rendah yang dapat dilakukan setiap hari. Latihan back up dapat dilakukan oleh setiap orang dengan tingkat kebugaran yang berbeda. Gerakan back up melatih otot-otot penting Ada banyak otot inti yang dilatih saat melakukan gerakan back up.
Als Frau Mit Einer Frau Flirten. - Alat musik talempong berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Talempong biasanya dimainkan dalam acara adat di Minangkabau. Alat musik ini merupakan pelengkap dalam berbagai acara talempong mampu menghidupkan suasana arak-arakan dalam penyambutan tamu. Suaranya nyaring dan terdengar dominan memberikan ciri khas kebudayaan Minangkabau. Cara Memainkan Talempong Talempong dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul yang terbuat dari kayu kecil stick. Sepertihalnya alat musik lain. talempong dimainkan dengan teknik khusus. Ada dua teknik dalam memainkan talempong 1. Teknik tradisional interlocking Seperangkat talempong dimainkan oleh tiga orang. Setiap pemain memainkan dua buah talempong yang dipegang dengan tangan kiri secara vertikal, atas dan bawah. Baca juga Talempong, Menyambut Rindu Perantau Minangkabau Cara memegang kedua alat musik ini adalah, yang di atas dijepit menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, sedangkan yang di bawah digantungkan pada jari tengah, manis, dan kelingking. Jari telunjuk menjadi pemisah antara kedua talempong. Cara memegang tersebut mempengaruhi suara yang dihasilkan, suara talempong menjadi nyaring. Sedangkan, tangan kanan berfungsi memegang dan memukul stik ke Talempong. 2. Teknik Modern Talempong diletakkan di atas rel atau rancakan/tempat gamelan. Talempong dipukul di atas dengan stik pemukul di atas rancakan. Bentuk Talempong Talempong memiliki bentuk bundar berdiameter sekitar 17 cm - 18 cm. Ukuranya berbeda antara bagian atas dan bawah. Bagian atas sedikit lebih besar dibandingkan bagian bawah. Baca juga Asal-usul dan Budaya Matrilineal Suku Minangkabau Bagian atas talempong memiliki bulatan yang lebih kecil seperti kepala talempong, sedangkan di bagian bawahnya dibuat berlubang. Talempong dibuat dari campuran tembaga, timah putih, dan besi putih. Kualiltas yang paling baik adalah talempong yang banyak mengandung unsur tembaga dalam campurannya. Ukuran standar Talempong Minangkabau, yaitu Tinggi 8,5 cm -9,4 cm Garis tengah 17 cm- 18 cm Tinggi dinding 5-6 cm Garis tengah bawah 16,5 cm - 17 cm Garis tengah pencu 2 m - 2,5 cm Ketebalan alat 3 mm- 4 mm Suara Talempong Ada dua jenis talempong, yaitu talempong melodis talempong duduak dan talempong melodis diletakkan di atas rel atau rancakan lalu dipukul menggunakan stik. ANTARA FOTO/IGGOY EL FITRA Foto dirilis Jumat 17/4/2020, memperlihatkan talempong yang sudah selesai dipoles hingga mengkilap dan siap dipasarkan, di Desa Nagari, Sungai Puar, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sejumlah bengkel usaha pembuatan talempong di Desa Nagari, Sungai Puar, masih bertahan di tengah perkembangan gaya hidup modern. Talempong pacik terdiri lima nada dasar yang dimainkan oleh tiga orang pemain. Nada dasar "sol" dimainkan orang pertama dengan unit "talempong jantan". Baca juga Plakat Panjang, Larangan Peperangan di Minangkabau Orang kedua memainkan nada dasar "do" dan mi dengan unit "talempong pengawinan". Kemudian, orang ketiga memainkan nada dasar "re" dan "fa" dengan unit talempong batino. Talempong pacik dimainkan dengan teknik tradisional, talempong yang bernada rendah berada di atas dan nada tinggi berada di bawah. Irama Nada Talempong Supaya menghasilkan nada yang berirama, talempong dimainkan secara bertahap dimulai dari talempong jantan, talempong pengawinan, dan talempong batino. Talempong jantan sebagai pembuka permainan musik memainkan motif tertentu yang berulang dan bertempo tetap. Baca juga 6 Fakta Menarik Suku Minangkabau, dari Tradisi Merantau hingga Warisan Diturunkan pada Anak Perempuan Setelah itu, talempong pengawinan masuk, dapat dengan "up-beat" tetapi tetap berpedoman pada motif dan tempo permainan jantan. Di sisi lain, talempong pengawinan memiliki motif yang berbeda dengan talempong jantan. Setelah permainan talempong jantan dan pengawinan stabil, talempong betino memulai permainan secara up-beat dengan berpedoman pada tempo permainan dua talempong sebelumnya. Permainan ketiga talempong akan saling mengisi sehingga akan membentuk sebuah irama. Fungsi Talempong Talempong, baik melodis atau pacik, kerap ditampilkan dalam berbagai upacara adat dan kegiatan sosial masyarakat Minangkabau. Berbagai acara adat di Minangkabau, seperti batagak panghulu, perarakan penghulu baru, perkawinan, sabik-iriak, gotong royong, penyambutan tamu nagari, tujuh belasan, pertunjukan randai, dan tari-tarian tradisional. Baca juga Tari Piring dari Minangkabau, Persembahan untuk Para Dewa Saat ini pemain telempong pacik mulai langka. Rata-rata, talempong pacik dimainkan oleh orang tua yang mahir memainkannya. Sedangkan, talempong melodis lebih banyak generasi penerusnya. Sumber dan Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
JawabanBentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Penjelasan bulat dan menonjol maaf jika salah JawabanTalempong atau dikenal sebagai Cak Lempong di Malaysia adalah sebuah alat musik pukul tradisional khas suku Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, tetapi ada pula yang terbuat dari kayu dan bisa membantu
GESER Beratus tahun, rancak talempong menggema di ranah Minang. Perubahan sesuai dinamika masyarakat, termasuk menjadi produk hiburan, membuat talempong tak lagi canggung dikawinkan dengan alat musik modern. Dengan cara itu, talempong bertahan melintasi zaman. Bunyi talempong telah menggema di ranah Minangkabau selama beberapa ratus tahun. Dari alat musik di lingkungan istana atau kerajaan, perlahan alat musik itu menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minang. Keberadaan talempong di bumi Minangkabau tercatat sejak abad ke-14. Dia tak lenyap ditelan zaman, tetapi membuktikan bahwa dia digdaya melintasi perubahan zaman. Kini, talempong dimainkan anak-anak muda berbagai usia dalam warna musik yang lebih beragam. Keberadaan talempong sangat erat dengan unsur folklore. Kisah asal-usulnya itu kebanyakan bersumber dari tambo, yaitu kisah yang disampaikan turun-temurun secara oral dengan versi berbeda-beda. Salah satu versi menyebutkan, konon talempong berasal dari Pariangan yang disebut-sebut sebagai asal mula nenek moyang orang Minangkabau. Sementara versi lainnya menyatakan, talempong berasal dari India Belakang, dibawa oleh keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain. Jennifer A Fraser dalam buku Gongs & Pop Songs Sounding Minangkabau in Indonesia menyebutkan, tidak ada bukti arkeologi atau bukti sejarah yang secara akurat menyebutkan asal-usul talempong. Namun, menurut Margareth J Kartomi 1998, diperkirakan talempong sudah ada sejak masa kedatangan Islam di Sumatera pada akhir abad ke-13. Dalam artikel Musical Strata in Sumatera, Java and Bali, Margareth menyebutkan, para perajin perunggu dari Tonkin, utara Vietnam, datang ke Minangkabau beberapa abad sebelum Masehi. Pada zaman yang disebut Zaman Perunggu itu diperkirakan talempong dan juga gong dibawa oleh nenek moyang orang Minangkabau. GESER Diperkirakan talempong sudah ada sejak masa kedatangan Islam di Sumatera pada akhir abad ke-13. Talempong awalnya hanya bernada pentatonik. Dalam perkembangannya, talempong dikembangkan menjadi diatonik sehingga bisa dikolaborasikan dengan alat musik modern. Instrumen gamelan yang berpasangan dibedakan menjadi lanang dan wadon, atau lelaki dan perempuan. Peran masing-masing “jenis kelamin” adalah memainkan not polos atau not sangsih. Kombinasi permainan polos dan sangsih menciptakan efek kebyar keras, cepat, dan berkaitan. Pada akhir kekuasaan Adhityawarman 1347 di Minangkabau, kebudayaan musik yang meliputi gong dan talempong menjadi simbol, prestise, dan kebesaran raja. Seperti disebutkan oleh Antony Reid 1995 dan Mahdi Bahar 2009, tahun 1550-an, musik perunggu yang menggunakan kettle drums, yaitu alat musik idiofon terbuat dari metal, yang diyakini adalah talempong, merupakan musik dari tradisi kerajaan Minangkabau. Alat musik ini konon biasa dipergunakan untuk menyertai keberangkatan raja bersama rombongan tatkala menemui orang-orang Portugis di Pantai Tiku. Pantai Tiku adalah salah satu pantai indah yang terletak di Kabupaten Agam. Saat ini, Kabupaten Agam, khususnya Sungai Puar, dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan talempong. Alat musik yang terbuat dari bahan yang terdiri dari campuran logam tembaga, timah putih, dan seng ini dibuat dengan teknik a cire purdue, yaitu cara pembuatan alat berbahan logam dengan lebih dulu membuat patron atau bentuk dasarnya. Bahannya menggunakan lilin. Patron atau bentuk dasar tersebut selanjutnya dibalut tanah liat, dikeringkan dengan cara dijemur, kemudian dibakar. Setelah pembakaran, cairan lilin dikeluarkan sehingga memunculkan rongga yang lantas diisi cairan logam. Setelah cairan logam membeku, baru dilakukan proses penggerindaan, pemolesan, dan penyeteman nada. Teknik pembuatan a cire purdue pada talempong membedakan dengan teknik pembuatan gamelan Jawa yang menggunakan metode tempaan. GESER Berlatih Mahasiswa di Institut Seni Indonesia Padang Panjang, Sumatera Barat, berlatih alat musik Talempong, Selasa 13/2. Institusi pendidikan seni seperti ini menjadi salah satu tempat yang diharapkan bisa melestarikan talempong. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho GESER Talempong tradisional Kelompok talempong tradisional “Bunian Mandeh” Sikabu-Kabu, Payahkumbuh, Sumatera Barat, Selasa 13/2, tengah memainkan alat musik talempong pacik. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Memainkan Talempong Mainkan contoh musiknya, lalu gunakan keyboard atau klik pada gambar talempong untuk memainkan irama talempong tersebut! Sunandar Raiska Putra yang merupakan generasi ketiga pembuat talempong di kawasan Sungai Puar, Kabupaten Agam, mengatakan, diperlukan setidaknya waktu selama 1-1,5 bulan dalam proses pembuatan talempong. ”Saya belajar membuat talempong secara otodidak. Hanya melihat bapak dan kakek. Lama-lama bisa sendiri. Main feeling saja,” ujarnya. Dulu, pembuatan talempong hanya dikuasai oleh ahli talempong yang disebut tuo talempong. Merekalah yang menguasai rahasia pembuatan talempong, termasuk nada-nada yang ”disematkan” pada talempong berdasarkan feeling mereka. Nada asli talempong yang pentatonik terdiri atas lima atau enam nada. Apabila dibandingkan dengan nada diatonik, akan terdengar tidak pas atau seolah meleset di telinga. Dosen Institut Seni Indonesia ISI Padang Panjang, Andar Indra Sastra, dalam disertasinya yang berjudul Konsep Batalun Dalam Penyajian Talempong Renjeang Anam Salabuhan Di Luhak Nan Tigo Minangkabau menyebutkan, dalam proses pembuatan talempong, dilakukan juga proses manyadahi, yakni proses yang bertujuan menjaga kestabilan bunyi talempong sesuai dengan kualitas bunyi yang diharapkan. Untuk menyadahi talempong, diperlukan sejumlah ramuan. Menyadahi talempong dimulai dari beruduk untuk menyucikan diri, membaca mantra, mencampur air-air dengan limau, mengaduk sadah dengan air yang sudah dicampur, mengambil talempong untuk disadahi, mengecek bunyi talempong, serta malimaui atau ”membasahi” talempong. Bengkel Talempong GESER Talempong dengan nada pentatonik biasa dipesan pemain talempong pacik dengan teknik tradisional. Talempong ini dimainkan dengan teknik interlocking atau saling meningkahi sehingga menimbulkan pola irama tertentu. Talempong pacik umumnya dimainkan tiga orang, dengan masing-masing memainkan dua talempong. Saat ini, pesanan talempong tidak hanya dalam nada pentatonik, tetapi juga dalam nada-nada diatonik. Tidak hanya satu oktaf, bahkan bisa lebih dari itu, termasuk nada-nada seperti kres dan mol. Hal ini bisa terjadi seiring dengan makin maraknya talempong kreasi, ketika talempong digabungkan dengan alat musik modern untuk menyuguhkan musik atau lagu yang lebih kompleks ketimbang sekadar pola irama tertentu. Perubahan ini terjadi kira-kira pada kurun waktu tahun 1970-an dengan salah satu pelopornya adalah Yusaf Rahman yang dikenal sebagai salah satu komponis besar asal Minang. GESER Talempong ini dimainkan dengan teknik interlocking atau saling meningkahi sehingga menimbulkan pola irama tertentu. GESER Pembuatan talempong Bengkel pembuatan talempong Anda Saiyo di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, Rabu 14/2. Sungai Puar menjadi wilayah yang dikenal sebagai wilayah pandai besi, termasuk pembuatan talempong. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho GESER Turun-temurun Kemampuan pembuatan talempong di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, diwariskan secara turun temurun dari leluhur. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Dalam buku Yusaf Rahman Komponis Minang yang disunting oleh Nasif Basir, disebutkan bahwa Yusaf pertama kali mengolah tangga nada talempong pentatonik yang terbatas hanya lima not, lalu menciptakan pola tangga nada diatonik. Dengan demikian, alat musik tradisional Minang itu bisa berkolaborasi dengan alat-alat musik lain. Yusaf yang mengawasi pembuatan talempong bernada diatonik tersebut dikerjakan oleh tuo-tuo talempong di Sungai Puar. Dia juga yang mengatur jumlahnya dalam satu meja, menyetem ketepatan nada-nadanya, serta mengatur kualitas suaranya agar sesuai konsep diatonik. Yusaf membagi talempong dalam tiga meja. Meja pertama disebut gareteh atau melodi berisi 16 talempong dalam dua oktaf nada diatonik yang bisa dimainkan dalam 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Meja kedua disebut tingkah atau akord, terdiri atas delapan talempong. Meja ketiga disebut saua, juga terdiri atas delapan talempong. Pengaturan nada talempong ini sama dengan pengaturan nada diatonik pada piano. Sejak itu, talempong bernada diatonik makin marak di Minangkabau. Belakangan, penyeteman nada talempong tak lagi menggunakan feeling, tetapi menggunakan aplikasi di telepon genggam. Upacara manyadahi yang dulu umum dilakukan para tuo talempong pun sudah tidak pernah lagi dilakukan. GESER Bahan baku Bahan baku pembuatan talempong di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, dari logam tembaga, kuningan, dan besi tua, Rabu 14/2. Sulitnya memperoleh bahan baku baru yang berkualitas membuat perajin memilih mendaur ulang logam bekas. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho GESER Menyetem nada Anda Saiyo, perajin di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, menyetem talempong, Rabu 14/2. Penyeteman talempong, terutama talempong diatonik, kini bisa dilakukan dengan menggunakan aplikasi di ponsel cerdas. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Sebagaimana sejarahnya yang memiliki kaitan dengan istana atau kerajaan, dalam perkembangannya, penggunaan talempong dalam masyarakat Minangkabau hampir selalu dikaitkan dengan upacara adat, seperti upacara pengangkatan penghulu dan upacara perkawinan. Meski demikian, talempong juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Fungsinya yang sakral pun terus bertransformasi menjadi makin lentur dengan dinamika masyarakat, termasuk kala menjadi sebuah produk hiburan. Di titik itu, talempong tak lagi canggung bertemu atau dikawinkan dengan alat-alat musik modern. Dinamika Irama Talempong GESER Tak hanya menjadi pengiring berbagai jenis tarian Minang atau digunakan untuk menyuguhkan lagu khas Minang dan lagu Melayu, lagu-lagu Indonesia populer atau modern serta lagu Barat pun mampu dimainkan menggunakan talempong. Dalam lima tahun terakhir juga marak talempong goyang yang menyuguhkan talempong dalam lagu-lagu campursari atau bahkan dangdut, dengan memasukkan unsur-unsur gendang sunda. Hal ini harus diakui menjadi salah satu daya tarik bagi anak-anak muda agar mereka mau berkenalan dengan talempong. Febrian Maldi 18, siswa kelas III SMA yang sejak satu tahun ini bergabung di Sanggar Seni Tampuniak, mengaku tertarik belajar talempong karena perpaduan nada dan cara memainkannya yang lebih menantang dibanding alat musik lain. GESER Sajian talempong Kelompok Sanggar Setampang Baniah menyajikan musik talempong di salah satu baralek acara pernikahan di Auditorium Universitas Putra Indonesia, Padang, Sumatera Barat, Jumat 16/2. Talempong kini banyak disajikan dalam pesta pernikahan besar-besaran baralek gadang. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho ”Anak-anak muda harus ditarik agar menyukai talempong. Caranya, dengan menghadirkan talempong dalam bentuk atau kemasan yang modern. Kalau tidak begitu, mereka tidak akan mau,” ucap pengelola Sanggar Seni Tampuniak di Pariaman, Erwindo Tri Ermis. Terkait fenomena itu, dosen ISI Padang Panjang yang meneliti perkembangan musik Minang, Zainal Warhat, menyebutkan, hal itu bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. Hal yang jauh lebih penting adalah talempong terus berjalan alias panjang umur. Begitulah, talempong digdaya melintasi zaman. GESER Perpaduan Talempong piano dimainkan di Sanggar Shofyani, Padang, Sumatera Barat, Senin 12/2 malam. Talempong piano atau disebut "taleno" mengacu pada nada di piano, salah satu inovasi talempong dengan alat musik modern. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho GESER Iringi tarian Alat musik talempong goyang mengiringi latihan tari di Sanggar Seni “Tampuniak”, Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu 17/2. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Kerabat Kerja Penulis Dwi AS Setianingsih, Ismail Zakaria Fotografer Rony Ariyanto Nugroho Videografer Rony Ariyanto Nugroho, Danial AK Penyelaras Bahasa Lucia Dwi Puspita Sari Infografik Luhur Arsiyanto Putra Desainer dan Pengembang Elga Yuda Pranata, Rafni Amanda Produser Prasetyo Eko Prihananto, Haryo Damardono Suka dengan tulisan yang Anda baca? Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.
Talempong merupakan salah satu alat musik tradisional berasal dari kebudayaan masyarakat Minangkabau. Alat musik ini termasuk ke dalam jenis alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul pada bagian yang menonjol dengan makai tongkat pemukul. Talempong kerap dipakai di dalam acara-acara yang digelar oleh masyarakat Minangkabau, seperti halnya pesta penyambutan tamu istimewa dan juga acara hajatan pernikahan. Dahulu alat musik Talempong dimainkan tidak berdasarkan notasi nada tetapi lebih memperioritasan keharmonisan suara atau bunyi yang dihasilkan, hal ini dikarena para pemain Talempong zaman dahulu tidak mengenal sama sekali notasi nada seperti halnya nada "do,re,mi,fa,sol,la,si,do". Tetapi seiring dengan berkembangnya zaman, saat ini para pemain musik Talempong memainkankan talempong memakai notasi nada. Talempong banyak tersebar di daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Keberadaan alat musik Talempong di daerah Minangkabau di duga telah ada sejak zaman dahulu. Nah seperti seperti apakah teknik dan cara memainkan alat musik Talempong khas minangkabau? berikut ini penjelasannya. Cara Memainkan Alat Musik Talempong Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bhawa alat musik talempong ini dimainkan dengan cara dipukul dan tentunya sesuai nada yang diinginkan. Kombinasi antara kecepatan dan juga ketepatan pukulan menjadi kunci didalam menghasilkan nada yang sangat harmonis. Bagian yang harus dipukul yaitu pada bagian tonjolannya. Pukulan tongkat kayu dapat membuat tubuh Talempong tersebut bergetar serta berdengung sampai menghasilkan suara. Irama yang dimainkan biasanya sesuai dengan kebutuhan lagu. Selain dapat dimainkan dalam irama atau tempo lambat, alat musik Talempong juga bisa dimainkan dengan irama atau Tempo yang cepat. Tetapi kecepatan tersebut tentunya tergantung dari kemampuan para pemain musik di dalam mengendalikan ketepatan pukulan. Tongkat pukul yang dipakai untuk memukul alat musik Talempong umumnya terbuat dari bahan dasar kayu biasa. Bagian ujung tongkat biasanya diberi karet atau dilapisi oleh kain, hal tersebut dilakukan supaya alat musik Talempong tidak cepat rusak dan bunyi atau suara yang dihasilkan akan jernih. Benturan secara langsung antara tongkat kayu dengan alat musik talempong bisa menurunkan kualitas bunyi atau suara dengungan yang dihasilkan, oleh sebab itu tongkat kayu biasanya diberi pelapis seperti halnya dari karet atau kain. Di dalam sebuah acara, umumnya Talempong tidak dimainkan secara sendiri atau tunggal, melainkan akan dimainkan bersamaan dengan alat musik tradisional lainnya, seperti halnya alat musik Akordeon, Saluang dan Serunai. Teknik Memainkan Talempong Teknik dalam memainkan alat musik Talempong secara umum terbagi menjadi dua cara, yaitu teknik Tradisional dan juga Teknik Modern. Teknik Tradisional Teknik Tradisional Di dalam teknik tradisional, para pemukul Talempong umumnya berjumlah lebih dari 3 pemain, dengan masing-masing pemukul memainkan 2 buah alat musik Talempong. Kedua buah talempong ini disusun secara vertikal serta digenggam memakai tangan kiri, sedangkan untuk tangan kanannya bertugas untuk memukul alat musik Talempong memakai tongkat pemukul. Teknik Modern Teknik Modern Dalam teknik modern, alat musik talempong akan disusun diatas rak secara horizontal. Para pemain musik memukul alat musik Talempong sesuai bunyi atau nada yang inginkan. Jumlah untuk pemukul Talempong didalam teknik modern ini umumnya hanya 1 orang per-raknya dengan jangkauan nada 1 tangga nada atau lebih. Notasi yang Dihasilkan Talempong Notasi yang biasa dihasilkan oleh alat musik Talempong secara keseluruhan tergantung dari jumlah alat musik Talempong yang dipakai. Secara umum, jumlah alat musik Talempong yang dipakai yaitu berkisar antara 8, 16, atau 20 buah disetiap raknya. Talempong dengan 8 Buah akan menghasilkan nada " C,D,E,F,G,A,B,C' ". Untuk alat musik talempong 16 buah akan menghasilkan nada " B, A, G, D, F, G, A,D, C, D, E, F, G, A, B, C ". Sedangkan untuk talempong dengan 20 Buah akan menghasilkan nada "A, B, A, G, D, F, G, A, C’, E’, C, C, D, E, F, G, A, B, C’ dan D’ ".
Foto – Talempong merupakan alat musik tradisional khas Minang. Bahannya terbuat dari kuningan, bentuknya lingkaran berdiameter antara 15–17,5 cm dan tinggi 8 cm dengan bagian bawah berlubang. Bunyi yang dihasilkan alat musik itu berasal dari kayu yang dipukulkan pada bagian bundaran di bagian atasnya. Alat musik ini mengiringi hampir setiap upacara adat Minang. Talempong juga digunakan untuk mengiringi sejumlah tarian serta sebagai musik penyambutan tamu istimewa. Alat musik pukul khas Minang ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu di bumi Minangkabau. Awalnya, alat musik tersebut bersifat sakral dan hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan. Seiring berjalannya waktu alat musik itu semakin populer. Kini keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minang. Talempong bahkan bisa dikatakan sebagai alat musik yang paling mewakili identitas sekaligus menjadi kebanggaan orang Minangkabau. Keberadaan alat musik sejenis bonang ini di tanah Minang tercatat sejak abad ke-14. Instrumen musik tradisional ini tak hanya mampu melintasi zaman, tetapi membuktikan mampu bertahan dalam perubahan zaman. Saat ini, talempong dimainkan oleh masyarakat dari beragam usia dalam warna musik yang lebih beragam di hampir seluruh Sumatra Barat. Sejarah keberadaan talempong diceritakan dalam tambo, yaitu kisah yang disampaikan turun-temurun secara oral dengan versi berbeda-beda. Salah satu versi menyebutkan bahwa talempong berasal dari Pariangan yang dipercaya merupakan tempat nenek moyang orang Minangkabau berasal. Sementara versi lainnya menyatakan, instrumen tersebut berasal dari India dan dibawa oleh keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain. Memang tidak ada bukti arkeologi atau bukti sejarah yang secara akurat menyebutkan asal-usul alat musik itu. Meski demikian, diyakini alat musik tersebut sudah dimainkan sejak masa kedatangan Islam di Sumatera pada akhir abad ke-13. Bahkan ada dugaan, sebenarnya talempong sudah ada jauh sebelum masa itu. Konon, alat musik tradisional itu dibawa oleh para perajin perunggu dari Tonkin, di utara Vietnam, yang datang ke Minangkabau pada Zaman Perunggu, beberapa abad sebelum Masehi. Awalnya, alat musik khas Minang itu hanya bernada pentatonik. Pada jenis ini, seperangkat alat musik talempong pacik dijinjing dimainkan oleh tiga orang. Setiap orang memainkan dua buah dengan cara dijinjing menggunakan tangan kiri dalam posisi vertikal dan dipukul dengan kayu pemukul menggunakan tangan kanan. Talempong yang sebelah atas dijepit dengan ibu jari dan telunjuk, sementara yang sebelah bawah digantungkan pada jari tengah, manis, dan kelingking. Jari telunjuk berfungsi sebagai pemisah di antara talempong agar tidak bersentuhan agar nada yang dihasilkan berbunyi nyaring. Seiring waktu, dikembangkan jenis kreasi baru dengan nada diatonik sehingga bisa dikolaborasikan dengan alat musik modern. Pada jenis ini, talempong diletakkan di atas real atau rancakan. Cara memainkannya tidak jauh berbeda dengan jenis yang pertama, yaitu dipukul dengan stik pemukul. Talempong bernada diatonik dimainkan dengan sistem melodi, mengacu pada beberapa lagu yang ritmik dan bisa dikolaborasikan dan dimainkan bersama dengan alat musik lainnya. Sejarah Pada akhir kekuasaan Adhityawarman 1347 di Minangkabau, alat musik yang meliputi gong dan talempong merupakan simbol, prestise, dan kebesaran raja. Pada 1550-an, musik perunggu yang menggunakan kettle drums, yaitu alat musik idiofon terbuat dari metal, merupakan musik dari tradisi kerajaan Minangkabau. Diyakini alat musik tersebut adalah talempong. Alat musik ini konon biasa dipergunakan untuk menyertai keberangkatan raja bersama rombongan tatkala menemui orang-orang Portugis di Pantai Tiku yang terletak di Kabupaten Agam. Saat ini, Kabupaten Agam, khususnya Sungai Puar, dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan talempong. Dulu, alat musik ini terbuat dari batu dan kayu. Kini, alat musik pukul itu terbuat dari kuningan. Meski bentuk talempong mirip dengan bonang pada gamelan Jawa, kedua alat musik tersebut dibuat dengan teknik yang berbeda. Talempong menggunakan teknik pembuatan a cire purdue, sementara bonang dibuat dengan metode tempaan. Teknik a cire purdue adalah cara pembuatan alat berbahan logam dengan lebih dulu membuat cetakannya. Cetakan tersebut dibuat dari lilin, kemudian dibalut tanah liat, dikeringkan dengan cara dijemur, lalu dibakar. Setelah pembakaran, cairan lilin dikeluarkan sehingga memunculkan rongga yang lantas diisi cairan logam. Setelah cairan logam membeku, baru dilakukan proses penggerindaan, pemolesan, dan penyeteman nada. Dulu, pembuatan alat musik itu hanya dikuasai oleh para ahli yang disebut tuo talempong. Merekalah yang menguasai rahasia pembuatan talempong, termasuk nada-nada yang ”disematkan” pada alat musik itu dengan hanya berdasarkan naluri pendengaran saja. Nada aslinya yang pentatonik terdiri atas lima atau enam nada. Apabila dibandingkan dengan nada diatonik, akan terdengar tidak pas atau seolah meleset di telinga. Talempong dengan nada pentatonik biasa dipesan pemain talempong pacik dengan teknik tradisional. Jenis tersebut ini dimainkan dengan teknik interlocking atau saling meningkahi sehingga menimbulkan pola irama tertentu. Saat ini, pesanan talempong semakin beragam, tidak hanya dalam nada pentatonik, tetapi juga dalam nada-nada diatonik. Nada yang bisa dimainkan juga tidak hanya satu oktaf, tapi bisa lebih dari itu, termasuk nada-nada seperti kres dan mol. Hal ini bisa terjadi seiring dengan makin maraknya talempong kreasi. Dengan menggabungkan talempong bersama alat musik modern, instrumen musik tradisional tersebut bisa digunakan untuk mengiringi lagu yang lebih kompleks ketimbang sekadar menghasilkan pola irama tertentu. Perkembangan talempong kreasi terjadi kira-kira pada kurun waktu tahun 1970-an. Salah satu pelopornya adalah Yusaf Rahman, seorang komponis besar asal Minang. Yusaf pertama kali mengolah tangga nada talempong pentatonik yang terbatas hanya lima not. Ia kemudian menciptakan pola tangga nada diatonik. Dengan demikian, alat musik tradisional Minang itu bisa dikolaborasikan dengan alat-alat musik lainnya. Yusaf yang mengawasi pembuatan talempong bernada diatonik tersebut yang dikerjakan oleh tuo-tuo talempong di Sungai Puar. Dia juga yang mengatur jumlahnya dalam satu meja, menyetem ketepatan nada-nadanya, serta mengatur kualitas suaranya agar sesuai konsep diatonik. Yusaf membagi talempong dalam tiga meja. Meja pertama disebut gareteh atau melodi berisi 16 talempong dalam dua oktaf nada diatonik yang bisa dimainkan dalam 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Meja kedua disebut tingkah atau akord, terdiri atas delapan talempong. Meja ketiga disebut saua, juga terdiri atas delapan talempong. Pengaturan nada talempong ini sama dengan pengaturan nada diatonik pada piano. Inovasi yang dilakukan Yusaf ini sempat menimbulkan pro-kontra. Namun, keinginannya untuk menghasilkan talempong tak membosankan sehingga lebih bisa dinikmati membuatnya kukuh. Sejak itu, talempong bernada diatonik makin marak di Minangkabau. Belakangan, penyeteman nada talempong tak lagi hanya menggunakan feeling, tetapi menggunakan aplikasi di telepon genggam. Upacara manyadahi yang dulu umum dilakukan para tuo talempong pun sudah tidak pernah lagi dilakukan. Sebagaimana sejarahnya yang memiliki kaitan dengan istana atau kerajaan, dalam perkembangannya, penggunaan talempong dalam masyarakat Minangkabau hampir selalu dikaitkan dengan upacara adat, seperti upacara pengangkatan penghulu dan upacara perkawinan. Meski demikian, talempong juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Fungsinya yang sakral pun terus bertransformasi menjadi makin lentur seiring perkembangan masyarakat. Alat musik tersebut kini tak hanya mengiringi upacara adat, tetapi juga menjadi sebuah produk hiburan. Ini dimungkinkan dengan perkembangan talempong kreasi yang membuat alat musik tradisional tersebut tampil dengan luwes bersama alat-alat musik modern. Tak hanya menjadi pengiring berbagai jenis tarian Minang atau digunakan untuk menyuguhkan lagu khas Minang dan lagu Melayu, lagu-lagu Indonesia populer atau modern serta lagu Barat pun mampu dimainkan menggunakan talempong. Dalam lima tahun terakhir juga marak talempong goyang yang menyuguhkan talempong dalam lagu-lagu campursari atau bahkan dangdut, dengan memasukkan unsur-unsur gendang sunda. Memberikan bentuk baru pada talempong dengan penggunaannya yang lebih luwes merupakan upaya agar anak muda tertarik untuk berkenalan dengan talempong. Hal ini penting agar alat musik tradisional khas Minang ini mampu bertahan. Dengan cara inilah, talempong tak hanya mampu bertahan, tapi juga berkembang seturut kemajuan zaman. Pertunjukan Keberadaan Talempong begitu penting dalam masyarakat Minangkabau. Hampir pada setiap upacara adat, alat musik ini hadir. Perkembangan talempong kreasi juga tak menghilangkan keberadaan talempong pacik yang tetap bertahan di tengah masyarakat. Biasanya talempong digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, seperti Tari Piring, Tari Pasambahan, Tari Payung, dan Tari Gelombang. Talempong juga digunakan sebagai musik untuk menyambut tamu istimewa. Alat musik tradisional juga ini merupakan salah satu komponen penting dalam ritual perkawinan khas Minang. Talempong mengiringi proses maarak marapulai, yaitu mengarak calon pengantin pria ke rumah calon anak daro atau pengantin perempuan. Biasanya, talempong dimainkan bersama beberapa alat musik lainnya, seperti akordeon, saluang, gandang, dan serunai. Saat ini, alat musik pukul tradisional ini juga berpadu dengan alat musik modern, seperti kibor, gitar, dan bas.
talempong yang bernada rendah disebut